Paijan “Pak Lek” dari palu, gergaji dan meteran, hingga duduk di kursi Manager

Jam ditangan saya menunjukkan pukul 22.45 Wita, berada disebuah rumah yang lokasinya berada disalah satu bukit tertinggi dikota Batulicin membuat suhu badan menurun, namun tawa gurau para bapak yang hadir malam itu membuat suasana menjadi hangat, jelas, dari cara berpakaian dan obrolan beliau-beliau, mereka bukanlah orang biasa, malam yang dingin itu dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi perusahaan yang berada dalam naungan Jhonlin Group.  Tidak ada acara yang spesial, masing-masing hanya saling berbagi cerita, berbagi tawa. Mereka mengambil posisi duduk diberbagai tempat yang ada dirumah kediaman pemilik multi-perusahaan yang religius, Haji Isam.
Dari sekian pejabat perusahaan yang hadir, saya menemukan satu sosok yang tenang dan bersahaja, dari raut mukanya menceritakan banyak hal, kegetiran, satir dan bahagia yang terselip diantaranya. Otak kiri saya memberikan perintah untuk segera menghampiri beliau.
Sapaan awal beliau menunjukkan identitas asalnya yang medok dari tanah Jawa, tepatnya Madiun, Jawa Timur. Namun, beliau menjelaskan “ sudah 30 tahun lebih saya menetap di Batulicin sejak tahun 2001”, beliau mengawali pembicaraan. Saya mengajak beliau ke halaman belakang rumah, dengan view kolam renang dan danau di seberangnya. Pak Paijan, atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Pak Lek, adalah karakter yang serba biasa, bersahaja, tak ada sirat dari tubuhnya yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Manager Operasional PT. Jhonlin Group.
“Dengan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan, kita tak akan pernah menjadi puas dan kebahagian jauh dari kita”
Matanya menerawang jauh saat saya bertanya bagaimana awalnya beliau bisa berada pada tingkatan kehidupan yang sekarang, dan jabatan yang beliau emban sekarang. “tahun 2001, saya datang ke Batulicin hanya membawa palu, gergaji, dan meteran, awalnya saya hanyalah seorang tukang bangunan”, sesekali beliau mengepulkan asap dari kretek yang dihisapnya, sebelum melanjutkan obrolannya “gaji pertama saya kala itu 600 ribu saja, tapi saya bersyukur masih diberikan rejeki oleh Tuhan, bagi saya, berapapun yang saya dapatkan, sekecil dan sebesar apapun rejeki yang saya terima, saya wajib berterima kasih dan mensyukurinya, karena dengan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan, kita tak akan pernah menjadi puas dan kebahagiaan jauh dari kita” tutur Pak Lek yang merupakan suami dari Salama dan bapak dari Alzena Putri Pratama, 4thn.
“Setelah menjadi tukang bangunan, saya dipercaya oleh oleh Haji Isam untuk mengawasi Hauling, sambil mengurus minyak untuk unit yang beroperasi, lalu dipercayakan juga untuk mengurusi dan mengawasi sarana transport tambang hingga suplai makanan di tambang” tutur Pak Lek mengenang.
Ragam jenis pekerjaan dilakukan Pak Lek demi kepentingan kelancaran kerja perusahaan, menjadi pengawas stock pile di Km.3,5 lalu menjadi pengawas di pelabuhan, hingga akhirnya pada tanggal 1 Mei 2011, Pak Lek dipercaya mengemban tugas yang lebih besar, menjadi Manager Operasional PT. Jhonlin Group.
Ketika ditanya, bagaimana kiat yang dilakukan beliau, strategi kerja yang beliau lakukan agar sukses, beliau kembali menarik dalam tembakau yang sedari tadi ada diantara jejarinya,“bagi saya hidup itu harus belajar, setinggi apapun sekolah kita, sehebat apapun kita, tetap harus belajar, belajar dari pengalaman, belajar untuk tetap berusaha, bersabar dan belajar untuk menekuni apa yang kita kerjakan, dan loyalitas adalah salah satu penunjang keberhasilan” ujar Pak Lek, sesekali beliau melirik ke arah rumah besar diseberang kolam renang yang tepat berada didepannya, sebelum melanjutkan ucapannya, “saya memulai semua ini dari nol, menurut saya, orang yang tidak mau merangkak dan bekerja keras dari bawah, itu tak akan sukses, saya yang hanya bersekolah di ST (Sekolah Teknik, setara dengan Sekolah Teknik Menengah_red.) itupun hanya sampai kelas 2, dari awal saya disini, saya belajar dari semua yang terjadi dilingkungan saya, dilingkungan pekerjaan”.
“Orang yang tidak mau merangkak dan bekerja keras dari bawah itu tidak akan sukses”
Pak Lek Melanjutkan “saya juga belajar untuk menghilangkan iri dan dengki, apalagi menganggap remeh orang lain, walaupun pendidikan saya lebih rendah, namun saya masih memegang norma agama dan etika”
Malam semakin larut, dan saya bersama Pak Lek masih berada di bangku samping kolam renang yang sedari tadi kami duduki, pejabat lainya telah mulai beringsut meninggalkan rumah besar itu, Pak Lek seperti hendak menyudahi obrolan kami malam itu, terlihat jelas dari cara berbicaranya, Pak Lek adalah orang yang tegas, “saya harus berani mengambil keputusan dan tindakan, karena pekerjaan saya kalau dilapangan memiliki resiko tinggi, hutan tak pernah bisa ditebak isinya”, Pak Lek berujar sembari berusaha berdiri dari duduknya.
Blitz kamera yang sedari tadi mengarah kepadanya, membuat pria kelahiran 14 April 1970 ini mendadak canggung “sudah yah, saya tak biasa ditanya-tanya dan dipoto-poto begini, bapak-bapak yang lain aja yang ditanya-tanya” ujarnya, jika saja kulit Pak Lek sedikit cerah, saya yakin, rona merah malu dimukanya tak mungkin dapat disembunyikannya.
Iya, pak Lek adalah salah satu contoh pemimpin yang sangat bersahaja, dibalik keras dan tegasnya cara beliau bekerja. Pola pikir anak yang beberapa tahun silam tidak menyelesaikan sekolah menengahnya, berani bersaing diantara mereka yang merasa lebih baik hanya karena latar belakang pendidikannya yang tinggi.“belum tentu..” kata Pak Lek, “pendidikan yang tinggi belum tentu membuat orang itu lebih baik, jika tak menggunakan perasaan dan hatinya dalam bertindak” Pak Lek membantah sembari jalan menuju teras belakang rumah, bergabung dengan beliau-beliau yang masih tersisa.
Tidak lama kemudian, kami semua yang berada dirumah tersebut pamit pulang ke empunya rumah, saya masih memperhatikan gerak gerik Pak lek, beliau berjabat tangan bersama pejabat lainnya, yang tentu, secara penampilan kontras dengan Pak Lek jika dilihat secara dandanan.
Beliau pamit pulang, mengeluarkan sebuah kunci, yang saya pikir sebuah kunci mobil layaknya seperti para Manager, ternyata dugaan saya salah, beliau menaiki sebuah motor roda dua matic, yang saya yakin, motor itu telah dibelinya beberapa tahun yang lalu.
Malam itu adalah moment yang berharga  bagi saya pribadi, tak akan pernah terlupakan, bagaimana kesederhanaan yang masih melekat didalam tubuh seorang pemimpin perusahaan, tanpa ada carut marut kesombongan dalam dirinya. Teruslah berlari Pak Lek, kepak kan sayapmu, terbang.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s